MUHKAM DAN MUTASYABIHAT

Makalah Oleh : Nanik Shobikah & Ali Syarifuddin

PENDAHULUAN

Al Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai kitab suci terakhir untuk dijadikan petunjuk dan pedoman hidup dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Al Qur’an adalah sumber pokok dan mata air yang memancarkan ajaran-ajaran Islam.
Allah SWT berfirman:

•            •     •         

Artinya:
“Sesungguhnya bahwa Al Qur’an itu memberi petunjuk ke jalan yang lebih lurus dan member khabar gembira kepada orang-orang beriman yang berbuat kebajikan. Bahwa mereka itu memperoleh pahala yang sangat besar”. (QS. Al Isra’ : 9)

Kitabullah Al Qur’an yang penuh dengan petunjuk, undang-undang dan hukum itu diturunkan sebagai pokok-pokok keterangan yang tidak dapat disangkal kebenarannya. Al Qur’an membekali kita dengan prinsip dan kaidah-kaidah umum serta dasar-dasar ajaran yang menyeluruh. Allah SWT telah menugaskan kepada Rosul-Nya yaitu Muhammad SAW agar menjelaskan kepada manusia atas segala yang tersirat didalam semua prinsip, kaidah dan ajaran pokok tersebut secara terperinci, bagian demi bagian, termasuk cabang dan rantingnya.
Allah SWT berfirman:
    ••     
Artinya:
“Telah kami turunkan kepadamu (hai Muhammad) Al Qur’an, agar engkau menjelaskan kepada umat manusia apa yang diturunkan kepada mereka (Al Qur’an) supaya mereka berfikir”. (QS. An Nahl : 44)
Kepada semua hambanya, Allah SWT menuntut agar memperhatikan Al Qur’an dan menarik pelajaran dari ayat-ayatnya setelah merenungkan dan memikirkannya.
Allah SWT berfirman:
       
Artinya:
“Apakah mereka tidak memikirkan (isi) Al Qur’an, ataukah hati mereka terkunci” (QS. Muhammad : 24)

Ayat-ayat Al Qur’an yang terkandung dalam Al Qur’an adakalanya berbentuk lafaz, ungkapan, dan uslub yang berbeda tetapi artinya tetap satu, sudah jelas maksudnya ayat yang sudah jelas tersebut, ada lagi ayat-ayat Al Qur’an yang bersifat umum dan samar-samar yang menimbulkan keraguan bagi yang membacanya sehingga ayat yang seperti ini menimbulkan ijtihad bagi para mujtahid untuk dapat mengembalikan kepada makna yang jelas dan tegas.
Kelompok ayat yang pertama, yang jelas maksudnya itu disebut dengan Muhkam, sedangkan kelompok ayat yang kedua yang masih samar-samar disebut dengan Mutasyabih. Kedua macam ayat inilah yang akan menjadi pembahasan pada bagian ini.

BAB II
AL MUHKAM WAL MUTASYABIH

A. Pengertian Al Muhkam
Muhkam berasal dari kata ihkam yang secara bahasa berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Namun semua pengertian ini pada dasarnya kembali kepada makna pencegahan. Ahkam Al Amr berarti ia menyempurnakan suatu hal dan mencegahnya dari kerusakan. Ahkam Al Faras berarti ia membuat kekang pada muut kuda untuk mencegahnya dari goncangan. Dalam Al Qur’an terdapat ayat yang menggunakan kata muhkam atau kata jadiannya.
Allah SWT berfirman:
          
Artinya:
“Sebuah kitab yang disempurnakan (dijelaskan) ayat-ayatnya” (QS. Hud : 11)

B. Pengertian Al Mutasyabih
Kata Mutasyabih berasal dari kata Tasyabuh yang secara bahasa berarti keserupaan dan kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran kepada dua hal. Tasyabaha dan Isytabaha berarti dua hal yang masing-masing menyamai yang lainnya.
Dalam Al Qur’an terdapat ayat yang menggunakan kata mutasyabih atau kata jadiannya.
Allah SWT berfirman:
 •     •
Artinya:
“… (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutasyabih) lagi berulang-ulang …”
(QS. Ar Rum : 23)

C. Pendapat Para Ulama Tentang Al Muhkam dan Al Mutasyabih
Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ulama tafsir mengenai Al Muhkam dan Al Mutasyabih.
1. Menurut As Suyuthi
Muhkam adalah sesuatu yang jelas artinya, sedangkan Mutasyabih adalah sebaliknya, sesuatu yang belum jelas artinya.
2. Menurut Imam Ar Razi
Muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat baik maksud maupun lafadnya, sedangkan Mutasyabih adalah ayat-ayat yang dalalahnya lemah, masih bersifat mujmal, memerlukan takwil, dan sulit dipahami.
3. Menurut Manna Al Qaththan
Muhkanm adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkan Mutasyabih tidak seperti itu, ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain.

Dari pendapat-pendapat tentang ayat-ayat Al Qur’an yang muhkamat dan mutasyabihat diatas dapat disimpulkan bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang sudah jelas baik kata-kata maupun maksudnya sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi yang memahaminya. Ayat yang muhkamat ini tidak memerlukan takwil karena telah jelas, lain halnya dengan ayat-ayat mutasyabihat.
Ayat-ayat mutasyabihat ini merupakan kumpulan ayat-ayat yang terdapat dalam Al Qur’an yang masih belum jelas maksudnya. Hal itu dikarenakan karena ayat mutasyabihat bersifat mujmal (global), ia memerlukan perincian yang lebih dalam. Selain bersifat mujmal (global), ayat-ayat tersebut juga bersifat muawwal sehingga karena sifatnya ini seseorang dapat mengetahui maknanya setelah melakukan pentakwilan.

As Suyuthi dalam Kitab Al Itqan telah menyebutkan pendapat para ulama tentang definisi muhkam dan mutasyabih antara lain sebagai berikut:
1. Pertama, muhkam adalah sesuatu/ayat yang yang jelas maknanya, sedang mutasyabih adalah sebaliknya.
2. Kedua, muhkam adalah ayat yang mengandung satu wajah/segi, sedang mutasyabih adalah ayat yang mengandung beberapa segi.
3. Ketiga, muhkam adalah ayat yang pengertiannya mudah diterima akal, sedang mutasyabih adalah sebaliknya.
4. Keempat, muhkam adalah ayat yang jelas tanpa memerlukan takwil, sedang mutasyabih adalah ayat yang tidak dapat diketahui kecuali dengan takwil.
5. Kelima, muhkam adalah ayat yang jelas dengan sendirinya, sedang mutasyabih adalah ayat yang penjelasannya membutuhkan kembali kepada ayat yang lain.

Dari beberapa pendapat tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa ayat muhkamat ialah ayat yang sudah jelas pengertiannya, mengandung satu arti, dan mudah diterima oleh akal dan tidak menerima takwil dan takhsis (pengkhususan). Sedangkan ayat mutasyabihat ialah ayat yang tidak jelas pengertiannya, menerima beberapa arti, dan ditakwilkan dengan mengembalikan kepada ayat muhkam.

Al Zarqani mengemukakan beberapa definisi tentang ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat, sebagai berikut:
1. Muhkam adalah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata, tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih adalah ayat yang tersembunyi (maknanya), tidak diketahui maknanya baik secara aqli maupun naqli, dan inilah yang ayat-ayat yang hanya Allah SWT yang mengetahuinya, sepert datangnya hari kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat. Pendapat ini dibangsakan Al Alusi kepada pemimpin-pemimpin madzhab Imam Hanafi.
2. Muhkam adalah ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui takwil. Mutasyabih adalah ayat yang hanya Allah SWT yang mengetahui maksudnnya. Pendapat ini dibangsakan kepada ahli sunnah sebagai pendapat yang terpilih dikalangan mereka.
3. Muhkam adalah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna takwil. Mutasyabih adalah ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil. Pendapat ini dibangsakan kepada Ibn Abbas dan kebanyakan ahli Ushul fiqih yang mengikutinya.
4. Muhkam adalah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan. Mutasyabih adalah ayat yang tidak berdiri sendiri, tetapi memerlukan keterangan. Kadang-kadang diterangkan dengan ayat atau keterangna tertentu dan kali lain diterangkan dengan ayat atau keterangan yang lain pula karena terjadi perbedaan dalam pentakwilannya. Pendapat ini diceritakan dari Imam Ahmad RA.
5. Muhkam ialah ayat yang seksama susunan dan urutannya yang membawa kepada kebangkitan makna yang tetap tanpa pertentangan. Mutasyabih ialah ayat yang maknanya seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya indikasi atau melalui konteksnya. Pendapat ini dibangsakan oleh Imam Haramain.
6. Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya dan tidak masuk kepadanya isykal (kepelikan). Mutasyabih ialah lawannya. Muhkam terdiri atas lafal nash dan lafal zahir. Mutasyabih terdiri atas isim-isim musytarak (kata benda) dan lafal-lafal mubhamah (samar-samar). Ini adalah pendapat Al Thibi.
7. Muhkam adalah lafal yang tunjukan maknanya kuat yaitu lafal nash dan lafal zahir. Mutasyabih adalah ayat yang tunjukan maknanya tidak kuat yaitu lafal mujmal (bersifat global dan memerlukan perincian), muawwal (lafal yang perlu ditakwil agar dapat dipahami), dan musykil (maknanya pelik dan sulit diketahui). Pendapat ini dibangsakan kepada Imam Al Razi.

Sumber tasyabuh atau mutasyabih adalah ketersembunyian maksud Allah SWT dari kalam-Nya. Ketersembunyian sebagai sebab mutasyabih itu dibagi menjadi tiga diantaranya adalah:
1. Mutasyabih pada lafal
Contoh pada lafal وفاكهة وأبا lafal أبّ disini mutasyabih karena ganjilnya dan jarangnya digunakan. Kata أبّ diartikan rumput-rumputan berdasarkan pemahaman dari ayat selanjutnya:
•   
(“Untuk kesenanganmu dan untuk binatang ternakmu”) QS. ‘Abasa 80 : 32

2. Mutasyabih pada makna
Adalah ayat-ayat mutasyabihat tentang sifat-sifat Alah SWT seperti:
      

Artinya:
“Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar Rahman 27)
•                         •  

Artinya:
“… tangan Allah di atas tangan mereka…” (QS. Al Fath 10)
dan lain-lain.

3. Mutasyabih pada lafal dan makna
Contoh mutasyabih dari segi makna dan lafal adalah :
        ••             •       •    
Artinya:
“… Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya. Akan tetapi kebaktian itu adalah kebaktian orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan betakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” (QS. Al Baqarah 189)

Ayat ini tidak dapat dipahami oleh orang yang tidak mengetahui adat bangsa Arab di jaman jahiliyah. Diriwayatkan bahwa beberapa orang Anshar jika berihram tak seorangpun dari mereka mau memasuki pagar atau rumah dari pintunya. Jika ia seorang penduduk kota, ia menggali lubang dibelakang rumahnya dan ia keluar masuk dari sana. Jika ia sorang badwi ia keluar dari gubuknya. Jadi mutasyabih ayat tersebut juga kembali kepada maknanya karena disamping membentangkan lafalnya harus pula mengetahui adat bangsa Arab di jaman jahiliyah.

Menurut Al Zarqani, ayat mutasyabihat dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti pengetahuan tentang Dzat Allah dan hakikat sifat-sifatNya, tentang waktu kiamat dan hal-hal ghaib lainnya.
2. Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan, seperti ayat-ayat mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang, urutan, dan seumpamanya.
Allah SWT berfirman:
                              
Artinya:
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita (lain)…”
(QS. An Niza 3)
3. Ayat-ayat mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan bukan semua ulama. Maksud yang demikian adalah makna-makna yang tinggi yang memenuhi hati orang-orang yang jernih jiwanya dan mujtahid

Al Raghib Al Ashfahani memberikan penjelasan yang mirip. Menurutnya mutasyabih terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Jenis yang tidak ada jala untuk mengetahuinya seperti waktu kiamat, keluarnya dabbah (binatang), dan sebagainya.
2. Jenis yang dapat diketahui oleh manusia seperti lafal-lafal yang ganjil (gharib) dan hukum yang tertutup.
3. Jenis yang hanya diketahui oleh para ulama tertentu yang sudah mendapat ilmu.
Seperti yang diisyaratkan Nabi dengan do’anya bagi Ibnu Abbas:

Artinya:
“Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam Agama, dan ajarkanlah kepadanya takwil”

D. Pendapat Ulama Salaf dan Khalaf Tentang Penafsiran Ayat-Ayat Mutasyabihat
Ayat-ayat mutasyabihat yang menyangkut sifat-sifat Tuhan yang dalam istilah Al Suyuthi “ayat al shifat” dan dalam istilah Shubi al Shalih “mutasyabih al shifat”. Ayat-ayat tersebut diantaranya adalah:
1. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arsy”
(QS. Thaha 20:5)

2. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris”
(QS. Al Fajr 89:22)

3. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hambaNya” (QS. Al An’am 6:61)

4. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“Amat besar penyesalanku atas kelalaianku di sisi Allah”
(QS. Al Zumar 939:56)

5. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“Dan kekallah wajah Tuhanmu” (QS. Al Rahman 55:27)

6. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“… dan supaya kamu diasuh atas mataKu” (QS. Thaha 20:39)

7. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“Tangan Allah di atas tangan mereka” (QS. Al Fath 48:10)

8. ______________________________________________________________________________________________________________________________
“… Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya” (QS. Ali Imran 3:28)

Dalam ayat-ayat ini terdapat kata-kata “bersemayam”, “datang”, “diatas”, “wajah”, “mata”, “tangan”, dan “diri” yang dijadikan sifat bagi Allah. Kata-kat ini menunjukkan keadaan, tempat dan anggota yang layak bagi makhluk hidup baru. Karena dalam ayat-ayat tersebut kata-kata ini dibangsakan kepada Allah yang qadim (absolut), maka sulit dipahami maksud yang sebenarnya. Karena itu ayat-ayat ini dinamakan mutasyabih al shifat.

Beberapa contoh ayat-ayat mutasyabihat:
1. Ayat tentang mafatihul ghaib, sebagaimana firman Allah:
___________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Artinya:
“Sesungguhnya disisi Allah penegtahuan tentang kiamat, Dia menurunkan hujan, Dia mengetahui janin dalam rahim. Seseorang tidak mengetahui apa yang akan dikerjakan besok hari. Seseorang tidak mengetahui di bumi mana ia meninggal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada”
(QS. Luqman: 34)

2. Ayat mengenai kata-kata gharib
______________________________________________________________________________________________________________________________
Artinya:
“Dan buah-buahan serta rumput-rumputan” (QS. ‘Abasa: 31)
Kata ______ adalah gharib, yaitu buah-buahan dan tanam-tanaman denagn bukti frman Allah yang terletak sesudahnya, yaitu:
______________________________________________________________________________________________________________________________
Artinya:
“Sebagai kesenangan bagimu dan binatang ternakmu” (QS. ‘Abasa 32)

Shubhi al Shalih membedakan pendapat ulama kedalam dua madzhab yaitu:
1. Madzhab Salaf disebut pula Madzhab Mufawwidhah/Tafwidh
Yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat itu dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al Qur’an serta menyerahkan urusan dan hakikatnya kepada Allah.
Dalam menerapkan penafsirannya, mereka mempunyai dua argumen yaitu:
a. Argumen Aqli
Adalah menentukan maksud dari ayat-ayat mutasyabihat hanyalah berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan dan penggunaannya dikalangan bangsa Arab.
Ketentuan yang dihasilkan bersifat zanni (tidak pasti), sedang sifat-sifat Allah tidak cukup dengan zanni tapi harus qath’i (pasti). Karena dasar yang qath’i tidak diperoleh maka diserahkan maksudnya kepada Allah Yang Maha Menegtahui dan Maha Mengenal.
b. Argumen Naqli
Adapun dalam argumen naqli, mereka mengemukakan beberapa hadist atsar sahabat. Salah satunya adalah:
Dari Aisyah, ia berkata : “ Rasul SAW membaca ayat: “Ia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu” — sampai kepada — “orang-orang yang berakal”; berkata ia: “Rasul SAW berkata: “Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya maka mereka itulah orang-orang yang disebutkan Allah, maka hati-hatilah terhadap mereka” (Dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim dan lain keduanya)
Jadi dari hadist atsar tersebut, dapat disimpulkan bahwa Rasul menyuruh kita berhati-hati terhadap orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat karena mereka mempunyai kecenderungan kepada kesesatan dan mencari fitnah.
Muhammad Ibnu al Hasan mengatakan bahwa seluruh ahli Fiqih dari timur ke barat sepakat meyakini sifat-sifat Allah tanpa penafsiran (penakwilan) dan tasybih (penyerupaan).
Ibnu al Shalih mengatakan bahwa cara inilah yang ditempuh para pendahulu dan pemuka-pemuka umat, dipilih oleh para imam fiqih dan para imam hadist dan tidak ada seorang ulama kalam yang keberatan dan mengelak dari pendapat ini.

2. Madzhab Khalaf disebut juga Madzhab Takwil/Muawwilah
Yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang laik dengan Dzat Allah.
Mereka memaknakan “istiwa” dengan ketinggian yang abstrak, berupa pengendalian alam semesta tanpa merasa kepayahan. Kedatangan Allah diartikan kedatangan perintahnya, Allah berada diatas hambaNya dengan Allah Maha Tinggi, bukan berada disuatu tempat, “sisi” Allah dengan hak Allah, “wajah” dengan Dzat, “mata” dengan pengawasan, “tangan” dengan kekuasaan, dan “diri” dengan siksa. Semua lafal yang mengandung makna cinta, murka dan malu bagi Allah ditakwil dengan makna majaz yang terdekat.
Madzhab ini mempunyai dua argumen yaitu:
a. Secara aqli
Menurut mereka suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna.
b. Secara Naqli
Mereka mengemukakan beberapa atsar diantaranya adalah:
Dari Al Dhahhak, berkata ia: “Orang-orang yang mendalam ilmunya mengetahuinya takwilnya. Sekiranya mereka tidak mengetahuinya, niscaya mereka tidak mengetahui nasikh dan mansukhnya, halalnya dari haramnya dan muhkam dari mutasyabihnya.” (diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim)
Pada mulanya pendapat ini tidak diterima ahlu sunnah, kemudian ternyata sebagian ahlu sunnah menganutnya. Ibn Burhan dan Imam Al Nawawi memilih madzhab takwil ini.
Dalam Syarh Muslim, Imam Nawawi berkata: “Sesungguhnya pendapat inilah yang paling benar karena sulit (diterima akal) bahwa Allah menyeru hambanya dengan sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang pun dari makhluk-Nya dapat memahaminya”
Sedangkan Imam Haramain (wafat 478 H) pada mulanya banyak menggunakan takwil dan kemudian kembali pada madzhab Salaf.
c. Disamping dua pendapat itu ada pendapat yang menengahi kedua madzhab itu yaitu pendapat Ibn Daqiq al’Id
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Al Suyuthi bahwa Ibn Daqiq al ‘Id berpendapat bahwa jika takwil itu dekat dari bahasa Arab maka tidak dipungkiri dan jika takwil itu jauh dari bahasa Arab maka kita tawaqquf (tidak memutuskannya).

Jadi, ketiga pendapat diatas masing-masing mempunyai dasar dan bila dipahami secara kritis ketiganya dapat dikompromikan. Makna yang diambil dari penakwilan dan penafsiran bukanlah makna yang pasti bagi lafal-lafal ayat mutasyabihat. Tidak seorangpun yang dapat menjamin bahwa itulah makna yang sebenarnya dan secara pasti yang dimaksudkan oleh Allah. Jika inilah makna yang diserahkan kepada Tuhan untuk mengetahuinya dan Ia saja yang mengetahuinya, maka semua pihak akan dapat menerimanya. Wallahu a’lam bisshowaab.
Secara praktis, Madzhab Khalaf lebih dapat memenuhi tuntutan kebutuhan intelektual yang semakin hari semakin berkembang dan kritis. Madzhab Salaf tetap sesuai bagi masyarakat yang secara intelektual tidak menuntut penakwilan ayat-ayat mutasyabihat, yang demikian lebih menenangkan keyakinan mereka terhadap Al Qur’an. Madzhab Salaf dikatakan lebih aman karena tidak jatuh kedalam penafsiran dan penakwilan yang menurut Tuhan salah. Sedangkan madzhab Khalaf dikatakan lebih selamat karena dapat mempertahankan pendapatnya dengan argumen aqli. Maka dari itu madzhab Salaf dan Khalaf inilah yang lebih tepat diterapkan untuk menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat denagn mengikuti ketentua-ketentuan takwil yang dikenal dengan ilmu tafsir.
Menurut Ibnu Labban mengatakan bahwa diantar yang sama dimaklumi bahwasanya perbuatan-perbuatan hamba tentulah dengan perantaraan anggota, sedang anggota-anggota itu dinisbahkan pula kepada Allah. Maka diketahuilah sifat-sifat Allah dalam kenyataannya ada dua mazhar yaitu:
a. Mazhar ibady (kehambaan) yang dinisbahkan kepada hamba-Nya yaitu rupa dan anggota-anggota tubuh atas dasar mendekatkannya kepada paham.
b. Mazhar Haqiqi, yang dinisbahkan kepada-Nya sebagaimana Allah mentanbihkan kita bahwa Allah suci dari mempunyai anggota tubuh

E. Hikmah Keberadaan Ayat-Ayat Mutasyabihat Dalam Al Qur’an
Ayat-ayat Al Qur’an baik yang muhkam maupun yang mutasyabih semuanya datang dari Allah SWT. Jika yang muhkam maknanya jelas dan mudah dipahami, sementara yang mutasyabih maknanya samar dan tidak semua orang dapat menangkap maknanya. Adapun hikmah dan rahasia keberadaan ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Qur’an seperti yang disebutkan Al Suyuthi dalam kitab Al Itqan yaitu:
1. Ayat-ayat mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih untuk mengungkap maksudnnya sehingga menambah pahala bagi yang mengkajinya.
2. Dengan adanya muhkam dan mutasyabihat maka masing-masing penganut madzhab akan memperhatikan dan merenungkannya dan terus menggali ayat-ayat muhkamat yang menjadi penafsirannya.
3. Untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat diperlukan penafsiran dan tarjih antara satu dengan lainnya sehingga muncul berbagai ilmu diantaranya ilmu bahasa, gramatika, ma’ani, ilmu bayan, ushul fiqih dan lainnya.
4. Sesuai untuk dakwah yang ditujukan kepada orang awam karena mereka biasanya tidak menyukai bentuk yang abstrak sehingga dibutuhkan ayat-ayat mutasyabihat ini untuk menunjukkan pengertian-pengertian yang sesuai dengan imajinasi dan khayal mereka.

Hikmah lain yang dikutip oleh Al Zarqani dari Al Fakhr al Razi yaitu:
1. Ayat-ayat mutasyabihat merupakan rahmat bagi manusia yang lemah yang tidak mampu menegtahui segala sesuatu. Karena itu Tuhan menyembunyikan pengetahuan tentang Dzat dan hakikat serta sifat-sifat Nya juga tentang hari kiamat agar manusia tidak bermalas-malasan membuat persiapan untuk menghadapinya.
2. Keberadaannya merupakan cobaan dan ujian bagi manusiaagar mereka percaya tentang hal ghaib yang disampaikan oleh orang yang benar. Orang-orang yang mendapat hidayahNya akan meyakininya walaupun tidak mengetahui perinciannya, orang-ornag yang sesat akan mengingkarinya.
3. Ayat-ayat ini menjadi dalil atas kelemahan dan kebodohan manusia. Bagaimanapun besar kesiapan dan banyak ilmunya, namun Tuhanlah yang Maha Mengetahui segala-galanya.
4. Ayat-ayat ini menguatkan kemukjizatan Al Qur’an. Sebab didalamnya mengandung makna tersembunyi sehingga menjadi tasyabuh (samar)
5. Keberadaannya mempermudah orang menghafal dan memelihara Al Qur’an. Jika makna-makna penjabaran pada ayat-ayat mutasyabihat dijabarkan pada Al Qur’an langsung maka Al Quran menjadi berjilid-jilid banyaknya sehingga menyulitkan untuk menghafal dan memeliharanya.
6. Ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat memaksa orang yang menelitinya untuk menggunakan argumen-argumen akal sehingga ia bebas dari kegelapan taqlid.

Inilah sebagian hikmah yang dikemukakan para ulama sehubungan dengan keberadaan ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Qur’an. Mudah-mudahan adanya ayat-ayat mutasyabihat ini menjadi penggerak bagi para mukmin untuk mempelajari berbagai macam ilmu agar mereka memahami ayat-ayat mutasyabihat dan membaca Al Qur’an dengan tadabbur dan penuh kekhusyukan. Amiin.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari uraian ayat-ayat muhkam dan mutasyabih di atas, dapat dipahami bahwa:
1. Ayat Muhkam adalah ayat yang sudah jelas maksudnya ketika kita membacanya, sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang perlu ditakwilkan, dan setelah ditakwilkan barulah kita dapat memahami tentang maksud ayat-ayat itu.
2. Ayat-ayat mutasyabih adalah merupakan salah satu kajian dalam ilmu Al Qur’an yang para ulama menilainya dengan alasannya masing-masing menjadi dua macam, yaitu pendapat ulama Salaf dan ulama Khalaf
3. Kita dapat mengatakan semua ayat adalah muhkam jika maksud muhkam itu adalah kuat dan kokoh, tetapi kita dapat pula mengatakan bahwa semua ayat itu adalah mutasyabih jika maksud mutasyabih itu adalah kesamaan ayat-ayatnya dalam hal balaghah dan I’jaznya.
B. Saran
1. Sebagai manusia yang beriman, kita wajib mengimani ayat-ayat Al Qur’an baik yang muhkamat maupun yang mutasyabih. Terlebih lagi kepada ayat-ayat yang mutasyabih. Karena baik ayat-ayat muhkamat maupun ayat-ayat mutasyabih datangnya dai Allah SWT.
2. Kita sebagai manusia yang berakal tentulah harus memikirkan, meneliti, menghayati, dan mengamalkan isi, kandungan dan makna Al Qur’an sebagai kitab suci agama Islam yang menjadi pedoman hidup di dunia dan di akhirat agar kita senantiasa mendapat Rahmat dan Ridlo Allah SWT.
Amiin. Amiin. Amiin. Yaa Robbal ‘Alamiin.

Pembagian tugas Makalah

Nuulu,,ya..masih diproses…..!!

Tunggu…masih dalam proses upload….!!!Tunggu dulu,,ya..masih diproses…..!!

SEKILAS TENTANG BLOG INI….!

Weblog ini dibuat khusus dengan tujuan untuk memudahkan informasi mahasiswa Pascasarjana Universitas Darul Ulum Jombang baik yang mengambil Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam maupun Hukum Islam.

Informasi yang ada dalam Weblog ini terkait dengan Perkuliahan dan tugas serta artikel/makalah yang sudah disetujui untuk diterbitkan dalam blog ini.

Content Weblog ini akan diperbaharui terus apabila terdapat informasi dari Kampus. anda dapat mengirim saran dan kritik ke weblog ini.

Ttd

Admin/im

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.